17/05/11

kemampuan polisi dalam bidang IT patut dipertanyakan



INILAH.COM, Jakarta - Pengamat terorisme Mochammad Mustofa menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya menegur Kapolri Jenderal Timur Pradopo karena situs resmi Polri dibobol oleh peretas (hacker). Ulah peretas itu mempermalukan lembaga Polri karena ternyata bisa disusupi pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dalam hal ini, Polri lalai mengamankan situsnya dari para hacker. Karena terlalu fokus ke penuntasan terorisme. "Kapolri memang harus ditegur Presiden. Masa situs polisi bisa di-hack," ujar Mustofa, di Jakarta, Selasa (17/5/2011).

Selain itu, lanjut Mustofa, kemampuan polisi dalam bidang IT patut dipertanyakan. Itu menunjukkan bahwa institusi Polri bisa dikalahkan oleh hacker. "Masa Polisi kalah oleh hacker sih." tandasnya.

Sebagaimana diberitakan, pada Senin (16/5/2011), situs Polri (www.polri.go.id) di-hack oleh seseorang yang mengajak pejuang Islam untuk bangkit. Ketika situs Polri dibuka, tampilan muka situs tersebut kosong, tapi tidak ada pesan error atau kejanggalan. Namun bila menuliskan http://www.polri.go.id/backend/index.html pada adress bar di browser, pengunjung dibawa pada sebuah halaman berlatar belakang hitam yang berisi tampilan foto dua orang berbaju khas kearab-araban mengibarkan bendera. Ada juga tulisan sebuah kalimat "Tiada tuhan kecuali Allah - Muhammad hamba dan utusan Allah". Selain itu ada juga tulisan "Bangkitlah singa-singa Islam!" yang terletak di bawahnya.

Selanjutnya di bawah foto dan tulisan terdapat link video yang telah dipublikasi di situs Youtube dengan judul 'Doa Hamba Allah yang Prihatin dengan Kondisi Umat Islam'. Doa tersebut diambil dari doa Syaikh Muhammad Al-Mohaisany, Imam Masjidil Haram, Mekkah. Di bawah link video tersebut terdapat arti doa tersebut dalam bahasa Indonesia.

Saat ini, situ tersebut tidak bisa dibuka sama sekali atau down. INILAH.COM selalu gagal ketika mencoba mengaksesnya. [tjs]

0 komentar:

Poskan Komentar

Mini Fordis b3gund4L